EKSEKUSI

Eksekusi

Nothing get DONE without a superb Execution!
Ini adalah judul buku yang dikarang oleh Larry Bossidy salah satu eksekutif “lulusan” GE yang terkenal dengan efektifitas menyelesaikan tugasnya.

Sering kali kita mendengar bahwa ada Great Plan, Konsep Mutakhir, Strategic planning yang mencakup segala aspek, tapi semuanya tinggal konsep diatas kertas dan GAGAL di eksekusi karena 4 faktor dibawah ini

1. Terlalu banyak hal yang ingin dilakukan > Fokus pada yang penting saja.
Terlalu sering kita memilik banyak target, apalagi dengan berkembangnya IT, kita dituntut mengerjakan beberapa pekerjaan dalam waktu yang bersamaan, dan sering sekali kita kekurangan waktu

Sebenarnya menurut statistik, manusia itu SIMPLE MINDED, otak kita tidak senang sesuatu yang kompleks, dan katanya kita hanya bisa mengerjakan 2 – 3 masalah dengan baik dalam kurun waktu yang sama. Maka sangatlah dianjurkan tidak menset target yang lebih dari 5 (sebenarnya sudah cukup stretching), karena pengalaman menyatakan lebih dari 5, biasanya pencapaiannya jauh dibawah yang hanya set target 3 – 5. Oleh sebab itu, pintar-pintarlah mempergunakan prinsip rasio Paretto. DO THE FIRST THING FIRST, niscaya hasil yang kita capai pastilah lebih banyak.

2. Tidak Mengukur > Buatlah Ukuran yang Jelas
Dalam sehari-hari, kita masih belum biasa untuk menentukan ukuran, malah kalau hendak di “ukur” kita ketakutan, takut tidak bisa mencapai target. Kalau mau mencapai hasil karya yang gemilang, ya, haruslah selalu diukur, dan ukurannya juga harus baku, jangan ibarat lompat tinggi, tidak lewat, ukuran, galanya diturunkan.

Dalam manajemen finansial dikenal memakai KPI (Key Performance Indicator), sedangkan dalam bisnis, mulai banyak perusahaan yang menerapkan BALANCE SCORECARD measurement.

Walaupun management guru coba menawarkan methode yang mutahir, saya kira kita sendirilah yang harus secara sederhana menentukan ukuran seperti, kapan selesai, hasilnya seperti apa secara kuantitatif dan bukan hanya kualitatif saja.

3. Tidak diterjemakan ke dalam aksi > terjemahkan ke Action Plan sederhana dan lakukan.
Sering kali, kita keasyikan melakukan analisa, mencoba koordinasi dengan segala macam aspek, karena memang dalam dunia bisnis yang dinamis tersebut, terlalu banyak faktor yang diluar control kita, sehingga sering kali muncul gejala Paralyse by Analyse, terjebak dalam analisa yang jelimet, dengan menggunakan program analisa yang jelimet pula, akhirnya peluang yang tepat selalu terlewati dan selalu ketinggalan kereta.

Hal ini, sangat terasa, bila organisasi sudah mulai besar, terlalu banyak orang yang tentu mempunyai ide yang berbeda-beda, dan untuk menyatukan dan mensinergikan semua ide dalam suatu ACTION PLAN sepertinya bagus, tapi yang sering terjadi adalah “keasyikan” untuk mengadu konsep, alternatif yang bertele-tele, diskusi cukup panjang dan melelahkan, sehingga menjadi gejala umum: Bos kerjanya meeting melulu, bawahan, karena “menuggu petunjuk” nyata dari boss, ya santai saja lah.

Jadi mengambil keputusan cepat dan tepat sudah menjadi hal yang langkah di perushaan besar. Belum lagi sindrom: Yang penting aman, padahal setiap keputusan yang diambil pastilah timbul resiko, benar atau salah, nah celakanya biasanya orang untuk menghindari kesalahan ya dengan tidak mengambil keputusan. Tetapi, dengan tidak mengambil keputusan dan membiarkan masalah gantung dan berlarut-larut, itu adalah pangkal masalah yang jauh lebih besar!

Tentu, kita harus mengambil keputusan harus berdasarkan pertimbangan resiko, apakah bila salah resikonya besar atau kecil, fatal atau tidak, bila tidak fatal dan kerugian finansialnya kecil, ya lakukan saja!

Setelah keputusan, haruslah diterjemahkan dalam langkah implementasi yang jelas dan mudah dimengerti, setelah itu kita harus bisa menyakinkan rekan sekelilingnya untuk melakukan action plan tersebut, maka perlu lagi interpersonal skill untuk mengajak yang lain mendukungnya.

4. Anda melakukan sendirian > libatkan semua orang untuk berpartisipasi
Sering terjadi orang yang berinisiatif baik dan memulai melakukan perubahan menuju perbaikan, tidak di dukung oleh lingkungannya, dan cukup sering orang menjadi frustasi dan “pasrah” dan akhirnya membiarkan lagi situasi yang parah untuk mengambil alih, atau mengundurkan diri dari keadaan tersebut dengan mencari lingkungan yang lebih sesuai.

Kita tidaklah mungkin melakukan perubahan besar tanpa dukungan sekeliling kita, tanpa berhasil mengajak lingkungan untuk turut bergerak, kita  tidak akan menciptakan momentum yang cukup untuk mensukseskan perubahan tersebut, energi positif kita akan ter peras habis.

Bagaimana mendapatkan dukungan lingkungan untuk suatu perubah:

  1. Jelaskan perubahan itu adalah untuk kebaikkan bersama
  2. Tunjukkan kita tidak ada vested interest (tujuan terselubung) didalam perubahan tersebut
  3. Mulai lakukan perubahan tersebut dari DIRI SENDIRI, jadilah model yang TELADAN
  4. Kemudian lanjutkan perubahan dalam lingkungan kecil (internal circle) yang kita memiliki otoritas untuk berubah, karena mengharapkan perubahan tanpa adanya “enforcement” dan hanya dengan pengaruh “cinta kasih” pendidikan terus menerus saja,  akan sangat makan waktu dan energi yang besar. Biasanya di dunia bisinis sudah keburu bangkrut sebelum perubahan terjadi!
  5. Ciptakan dan rayakan kemenangan sekecil apapun, karena itu akan merangsang perubahaan yang berkelanjutan
  6. Dengan demikian lingkaran pengaruh kita akan semakin besar, sampai menciptakan momentum untuk suatu perubahan besar

Memang semua teori kelihatan benar dan mudah dilakukan, tapi kenyataannya tidaklah semudah mengucapan slogan Nike: Just Do It dan semuanya beres.

Eksekusi, ternyata membutuhkan discipline, kerja keras dan sering  TIDAK POPULAR, tapi eksekusi MUTLAK dibutuhan untuk mencapai hasil yang gemilang.

So, just Execute! Result will Come!

Salam FUNTASTIC!

-0-

Coach Cahyadi Kurniawan

Cahyadi Kurniawan Business Coach ActionCOACH

With a passion to help people achieve success in their lives, Cahyadi brings to his clients a wealth of experience in Leadership, Systems, Conceptual Thinking, and Calculated Risk Taking. His practical no-nonsense approach to business and teamwork helps his clients find clarity in their issues and solutions. With 22 years of experiences, Cahyadi has served as Presiden Director and VP in various multinational companies. He speaks 6 languages including Indonesia, Engllish, German, Mandarin, Hokkien, and Cantonese. Cahyadi is a CCF Certified Coach and has been recognized for his wisdom and balanced approach to leadership and business.

Kunjungi Facebook Business Page ActionCOACH South Jakarta untuk tips-tips seputar bisnis.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: