Kritik = Umpan Balik yang Membangun

Kritik=Umpan Balik Yang Membangun

Coach Cahyadi Kurniawan

Coach Cahyadi

Sering kita mendengar dari banyak pakar manajemen mengatakan mulai dari jangan  mengkritik, sampai kritik yang disampaikan haruslah bersifat membangun dengan bahasa yang “menyenangkan” supaya orang yang dengar kritik tersebut tidak tersinggung, dengan ini perubahan baru bisa terjadi. Ini adalah anjuran kepada yang memberi kritik, tapi malah timbul tafsiran menjadi: Janganlah mengkritik, nanti “Tersinggung”, nah dengan konsep budaya yang menganggap hubungan harmonis adalah segala-galanya, (biarpun makin terpuruk), maka terjadi keadaan yang serba di “biar” kan alias toleransilah dan bila konsep ini yang diterima, tentu keadaan akan menuju ke kacauan dan keterpurukan.

Orang yang sudi memberi Kritik sebenarnya adalah orang yang CARE, merasa bertanggung jawab!

Coba kita pikirkan, buat apa seorang yang tidak ada peduli dan tidak ada hubungan dengan kita perlu memberi kritik ? Kita tidak pernah kritik orang yang kita tidak kenal atau orang yang kita tidak peduli. Jadi sadarilah bahwa orang yang sudi mengkritik kita (entah itu dinilai membangun atau menjatuhkan) sebenarnya dia itu peduli atas sesuatu keadaan yang tidak beres. Dan biasanya orang yang mengkritik tersebut, pasti mempunyai pola pikir, persepsi yang lebih baik untuk memperbaiki keadaan tersebut. Sedangkan kita yang mendapat kritikan, selalu bisa beraksi:

Positif: Ternyata ada orang yang mempeduli atas kerjaan kita, dan fakta yang disampaikan adalah benar, dan dengarlah saran, anjuran sang pengkritik, apa yang mesti dilakukan, demi kebaikan saya sendiri.

Negatif: Secara spontan langsung mem “blokir” kritikan tersebut, dengan sigap dan cepat mencari alasan ataupun menjelaskan: itu bukan kerjaan/salah saya, ataupun hasil tersebut sudah yang terbaik, karena “lingkungan” tidak mendukung dsb.

Dan terus terang saja, di masyarakat kita, lebih banyak kita ketemu tipe reaksi yang negatif, saya hanya ambil dua contoh yang masih segar seingat saya:

1. Sample kertas minta dipotong menjadi A4 supaya mudah dibawah.

Ternyata, memang dipotong menjadi A4 tetapi digulung, setelah ditanya (dianggap kritik?) koq ngak diratain, masuk ke amplop saja.

Jawaban yang didapat adalah: Bukan saya yang kerjakan, akhirnya masalah yang sepele, menjadi menghabiskan banyak energi untuk membetulkannya. Bisa saja, reaksinya positif: Tidak masalah, pak, saya akan ratakan gulung tersebut dan masukkan ke amplop supaya mudah dibawa.

2. Memberi masukan bahwa dinding hotel tersebut lembab.

Ternyata, reasksi yang didapat dari resepsionis adalah: Ini sekarang lagi musim HUJAN! Jadi kesimpulannya adalah hujanlah yang salah, padahal mereka sendirilah meminta tamunya untuk menulis kesan dan saran atas pengalaman dihotel tersebut.

Nah inilah masalah umum yang kita hadapi, hotel tersebut inginnya mendapat pujian, kesan yang baik saja (demikian juga kita, maunya sanjungannya), tetapi sebenarnya sanjungan maupun pujian membuat kita itu takabur, lupa diri atas ketidaksempurnaan kita, dan lupa dan malas untuk berjuang untuk memperbaikan diri.

Jawaban positif dari receptionist tersebut bisa: Terima kasih pak, mungkin ada saran bagaimana, keadaan ini bisa diperbaiki ? bisa saja dia itu berbicaraan dengan seorang ahli water proofing, sehingga kelembaban hotel itupun mudah diselesaikan.

Kita sering dapat teguran (kritik pedas) dari langganan kita atas SPEED & Reliability produk kita, bagaimana reaksi kita ?

Memblok dengan alasan pembenaran diri, bahwa itulah yang terbaik kita bisa lakukan karena “kesalahan” bukan pada saya tapi lebih lingkungan yang out of our control ? lebih jelek lagi, anggapan customer tersebut memang macam-macam aja.

Atau, secara jujur MENERIMA KENYATAAN tersebut, mencari akar masalah dan selesaikan SECEPATNYA tanpa membuat situasi menjadi lebih complex ?

Ambillah semua hikmah kritikan sehingga kita bisa memperbaiki diri

Kita tidak bisa kontrol ataupun mempengaruhi orang yang kritik kita, tapi kita selalu bisa breaksi secara positif atas kritik tersebut. Dibawah ini ada beberapa butir reaksi positif yang mestinya kita latih dan mempraktekkannya sehingga perusahaan, dan kita sendiri berkembang secara pesat:

  1. Semua kritikan mengenai pekerjaan kita BUKAN terhadap personal kita, jadi gunakan ratio dan bukan emosi untuk menyelesaikannya
  2. Orang yang mau kritik, adalah orang yang benar benar Care dan peduli akan perbaikan kita
  3. Terima semua kritik (take it as my concern) dan tidak melemparkannya alias cari kambing hitam, karena kita ambil sisi positif, semua kritik adalah kritik membangun, tidak ada yang menjatuhkan
  4. Minta nasehat atau sharing ide bagaimana bisa kita lakukan lebih baik dari segi sang pemberi kritik
  5. Ambil poin-poin positifnya dan lupakan bagian yang emosional
  6. Segera lalukan koreksi diri, baru koreksi lingkungan yang bisa terjangkau/terpengaruh oleh kita

Bagaimana memberi kritik yang efektif ?

Saran tersebut sudah banyak ditulis pakar di buku manajement. Saya hanya sarankan :

  1. Jangan segan menunjukkan sesuatu yang tidak beres atau bisa lebih baik. Terutama di industri kimia, sesuatu yang salah, keliru, bila tidak dikoreksi cepat akan fatal hasilnya (pabrik kebakaran, meledak dsb).
  2. Berikan solusi bagaimana bisa lebih baik, sehingga orang yang dikritik mendapat jalan keluar untuk bertindak lebih baik. Demikian respect terhap Anda juga pasti meningkat.
  3. Berikan kritik saat itu juga, jangan dikumpul saja, karena nanti dipersepsi mencari-cari kesalahan dan menyerang pribadi orang.
  4. Dengarkan umpan balik, apa orang yang dikritik mengerti atas kritikan tersebut dan ada solusinya, kalau sebagai atasan perlu mendapat komitmen dan follow up dari bawahan bahwa perbaikan seperti yang disetuju dilakukan dengan CEPAT dan CERMAT tentu dengan dukungan penuh.

Semoga tulisan ini memberi inspirasi bahwa menerima Kritik bukanlah berarti dunia kimiat, juga diharap kalau menemukan kesalahan atau situasi yang bisa diperbaik, jangan segan-segan cepat memberitahu ataupun mengkritiknya.

Hanya budaya yang terbuka, berubah terus untuk mencapai kesempurnaanlah yang akan survive dan berkembang, budaya yang tertutup, merasa diri paling benar (I Know !), besar pastilah menjadi bagiaan dari ilmu arkeologi alias punah !

–  Coach Cahyadi –

ActionCOACH South Jakarta business coaches  guide businesses in selecting and implementing effective and cost-efficient marketing strategies to boost results with a proven 17-week guarantee. For more information on business coaching, visit www.actioncoachsouthjakarta.com or  call 021 2567 5775 .

Testimonial

—————————————————————————————————————–

Related Article(s) :

  1. Going to The Next Level? What Needs to Change
  2. How to Make Empowerment Work?

—————————————————————————————————————–

International website : http://www.actioncoach.com

Local website : http://www.actioncoachsouthjakarta.com

—————————————————————————————————————–

Follow us : Twitter | Facebook | Youtube

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: